Jumat, 15 Januari 2016

(CERITA DEWASA) Istriku Diperkosa Maling Bejat

Written By Mr. Aas on Thursday, 1 November 2012 | 03:49

Tiba-tiba sebuah suara keras membangunkan kami di tengah malam. Fatimah istriku memeluk lenganku saking ketakutannya. Suara itu datang dari arah dapur. Sepertinya kaca yang jatuh berantakan. Naluriku mengatakan ada hal yang tak beres ada di dalam rumah ini. Aku bangun dan menyalakan lampu. Istriku berusaha menahan aku. Dengan hati-hati aku bangun dan membuka pintu dan melangkah ke dapur.

Aku kaget dengan ketakutan yang amat saat muncul sosok asing di bawah jendela dapurku. Nampak di lantai kaca jendela pecah berserakan. Pasti dia ini maling yang hendak mencuri di rumah kami. Sama-sama
kaget dengan gesitnya pencuri ini berdiri dan melangkah pendek menyambar pisau dapur kami yang tidak jauh dari tempatnya. Orang ini lebih gede dari aku. Dengan rambut dan jambangnya yang nggak bercukur nampak begitu sangar. Dengan pakaiannya yang T. Shirt gelap dan celana jean bolong-bolong dia menyeringai mengancam aku dengan pisau dapur itu.

Aku memang lelaki yang nggak pernah tahu bagaimana berkelahi. Melihat ulah maling ini langsung nyaliku putus. Dengan gemetar yang sangat aku berlari kembali ke kamar tidurku dan menutup pintunya. Namun kalah cepat dengan maling itu. Aku berusaha keras menekan untuk mengunci sebaliknya maling itu terus mendorong dengan kuatnya. Istriku histeris berteriak-teriak ketakutan,

“Ada apa Maass.. Toloonngg.. Tolongg..”

Namun teriakan itu pasti sia-sia. Rumah kami adalah rumah baru di perumahan yang belum banyak penghuninya. Tetangga terdekat kami adalah Pak RT yang jaraknya sekitar 30 rumah kosong, yang belum berpenghuni, dari rumah kami. Sementara di arah yang berbeda adalah bentangan kali dan sawah yang luas berpetak-petak. Sejak pernikahan kami 2 tahun yang lalu, inilah rumah kredit kami yang baru kami tinggali selama 2 bulan ini.

Upaya tarik dan dorong pintu itu dengan pasti dimenangkan oleh si maling. Aku terdepak jatuh ke lantai dan maling itu dengan leluasa memasuki kamar tidur kami. Dia mengacung-acungkan pisau dapur ke isteriku agar tidak berteriak-teriak sambil mengancam hendak memotong leherku. Istriku seketika ‘klakep’ sepi. Sambil menodongkan pisau ke leherku dengan kasar aku diraihnya dengan menarik bajuku keluar dari kamar. Matanya nampak menyapu ruangan keluarga dan menarikku mendekat ke lemari perabot. Pasti di nyari-nyari benda berharga yang kami simpan.

Dia menemukan lakban di tumpukkan macam-macam peralatan. Dengan setengah membanting dia mendorong aku agar duduk di lantai. Dia me-lakban tangan dan kakiku kemudian mulutku hingga aku benar-benar bungkem. Dalam keadaan tak berkutik aku ditariknya kembali ke kamar tidurku. Istriku kembali berteriak sambil menangis histeris. Namun itu hanya sesaat.

Maling ini sungguh berpengalaman dan berdarah dingin. Dia hanya bilang,
  Nampak maling itu menyapukan pandangannya ke Kamar tidurku. Dia melihati jendela, lemari, tempat tidur, rak kset dan pesawat radio di kamarku. Dia sepertinya berpikir. Semuanya kusaksikan dalam kelumpuhan dan kebisuanku karena lakban yang mengikat kaki tanganku dan membungkam rapat mulutku.

Tiba-tiba maling itu mendekati Fatimah istriku yang gemetar menggulung tubuhnya di pojok ranjang karena shock dan histeris dengan peristiwa yang sedang terjadi. Dengan lakbannya dia langsung bekap mulutnya dan direbahkannya tubuhnya di ranjang. Aku tak kuasa apa-apa hanya mampu tergolek dan berkedip-kedip di lantai. Aku melihat bagaimana sorot mata ketakutan pada wajah Fatimah istriku itu.

Ternyata maling itu merentangkan tangan istriku dan mengikatnya terpisah di kanan kiri kisi-kisi ranjang kayu kami. Demikian pula pada kakinya. Dia rentangkan dan ikat pada kaki-kaki ranjang. Dan akhirnya yang terjadi adalah aku yang tergolek lumpuh di lantai sementara Fatimah istriku telentang dan terikat di ranjang pengantin kami.

Perasaanku sungguh tidak enak. Aku khawatir maling ini berbuat diluar batas. Melihat sosoknya, nampak dia ini orang kasar. Tubuhnya nampak tegar dengan otot-ototnya yang membayang dari T. Shirt dekilnya. Aku taksir tingginya ada sekitar 180 cm. Aku melihati matanya yang melotot sambil menghardik,
“Diam nyonya cantiikk..” saat melihat istriku yang memang nampak sangat seksi dengan pakaian tidurnya yang serba mini karena udara panas di kamar kami yang sempit ini.

“Aku mau makan dulu ya sayaang.. Jangan macam-macam”. Dia nyelonong keluar menuju dapur. Dasar maling nggak bermodal. Dia ngancam pakai pisauku, ngikat pakai lakbanku sekarang makan makananku.

Nampak istriku berontak melepaskan diri dengan sia-sia. Sesekali nampak matanya cemas dan ketakutan Memandang aku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan maksud melarangnya bergerak banyak. Hemat tenaga.

Sesudah makan maling itu gelatakan membukai Berbagai lemari dan laci-laci di rumah. Dia nggak akan dapatkan apa-apa karena memang kami nggak punya apa- apa. Aku bayangkan betapa wajahnya akan kecewa karena kecele. Kudengar suara gerutu. Nampaknya dia marah.

Dengan menendang pintu dia kembali masuk kamar tidur kami. Membuka lemari pakaian dan mengaduk-adukkannya. Dilempar-lemparkannya isi lemari hingga lantai penuh berserakan. Dia buka kotak perhiasan istriku. Dibuang-buangnya perhiasan imitasi istriku.

Karena tak mendapatkan apa yang dicari Maling mengalihkan sasaran kekecewaan. Dia pandangi istriku yang telentang dalam ikatan di ranjang. Dia mendekat sambil menghardik,

“Mana uang, manaa..? Dasar miskin yaa..? Kamu umpetin dimana..?”

Tangannya yang mengkilat berotot bergerak meraih baju tidur istriku kemudian menariknya dengan keras hingga robek dan putus kancing-kancingnya. Dan yang kemudian nampak terpampang adalah bukit kembar yang begitu indah. Payudara Fatimah yang sangat ranum dan padat yang memang selalu tanpa BH setiap waktu tidur. Nampak sekali wajah maling itu terkesima.

Kini aku benar-benar sangat takut. Segala Kemungkinan bisa terjadi. Aku saksikan adanya perubahan raut mukanya. Sesudah tidak mendapatkan uang atau benda berharga dia jadi penasaran. Dia merasa berhak mendapat pengganti yang setimpal. Maling itu lebih mendekat lagi ke Fatimah dan dengan terus memandangi buah dadanya yang sangat sensual itu. Pelan-pelan dia duduk ditepian ranjang.

“Dimana kamu simpan uangmu nyonya cantiikk..?” sambil tangan turun menyentuh tubuh Fatimah yang sama sekali tak bisa menolak karena kaki dan tangannyaterikat lakban itu. Dan tangan itu mulai mengelusi dekat Payudaranya.

Ampuunn.. Kulihat bagaimana mata Fatimah demikian paniknya. Dia merem memejamkan matanya sambil Memperdengarkan suara dari hidungnya,
“Hheehh.. Hheehh.. Heehh..”.
Dan sentuhan maling itu tidak berhenti di tempat. Air mata istriku merangsang dia semakin brutal. Tangan-tangannya dengan tanpa ragu mengelus- elus dan kemudian meremas-remas buah dada Fatimah serta bagian tubuh sensitive lainnya. Hal ini benar-benar membuat darahku menggelegak marah. Aku harus berbuat sesuatu yang bias menghentikan semua ini apapun risikonya. Yang kemudian bisa kulakukan adalah menggerakkan kakiku yang terikat, menekuk dan kemudian menendangkan ke tepian ranjangku. Maling itu terkaget namun sama sekali tidak bergeming.

“Hey, brengsek. Mau ngapain kamu. Jangan macam-macam. Jangan ganggu istrimu yang sedang menikmati pijitanku,”dia menghardik aku. Dan aku memang langsung putus asa. Aku tak mungkin berbuat apa-apa lagi. Kini hanya batinku yang meratapi kejadian ini.

Dan yang terjadi berikutnya adalah sesuatu Yang benar-benar mengerikan. Maling itu menarik robek seluruh busana tidur istriku. Dia benar-benar membuat Fatimah telanjang kecuali celana dalamnya. Lantas dia rebah merapatkan tubuhnya disampingnya. Istriku nampak bak rusa rubuh dalam terkaman serigala. Dan kini pemangsanya mendekat untuk mencabik-cabik untuk menikmati tubuhnya.

Dari matanya mengalir air mata dukanya. Dia tak mampu berpuat apa-apa lagi. Dalam setengah telanjangnya aku kian menyadari betapa cantiknya Fatimah istriku ini. Dia tunjukkan betapa bagian-bagian tubuhnya menampilkan sensualitas yang pasti menyilaukan setiap lelaki yang memandangnya. Rambutnya yang mawut terurai, pertemuan lengan dan bahu melahirkan lembah ketiak yang bias menggoyahkan iman para lelaki.

Payudaranya yang membusung ranum dengan pentilnya yang merah ungu sebesar ujung jari kelingking sangat menantang. Perut dengan pinggulnya yang.. Uuhh.. Begitu dahsyat mempesona syahwat. Aku sendiri terheran bagaimana aku bisa menyunting dewi secantik ini.

Dan kini maling brutal itu menenggelamkan mukanya ke dadanya. Dia menciumi dan menyusu Payudaranya seperti bayi. Dia mengenyoti pentil istriku yang nampaknya berusaha berontak dengan menggeliat-geliatkan tubuhnya yang dipastikan sia-sia. Dengan semakin beringas nafsu nyolongnya kini berubah menjadi nafsu binatang yang dipenuhi birahi.

Dengan gampang dia menjelajahkan moncongnya ke sekujur tubuh Fatimah. Dia merangsek menjilat-jilat dan menciumi ketiak istriku yang sangat sensual itu. Inilah pesta besarnya. Dia mungkin tak pernah membayangkan akan mencicipi nikmat tidur dengan perempuan secantik Fatimah istriku ini.

Menjarah dengan kenyotan, jilatan dan ciumannya maling ini merangsek ke tepian pinggul Fatimah dan kemudian naik ke perutnya. Dengan berdengus-dengus dan nafasnya yang memburu dia menjilati puser Fatimah sambil tangannya gerayangan ke segala arah meremas dan nampak terkadang sedikit mencakar menyalurkan gelegak nafsu birahinya.

Perlawanan istriku sudah sangat melemah. Yang terdengar hanyalah gumam dengus mulut tersumpal sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai ungkapan penolakannya. Mungkin ketakutan serta kelelahannya membuat stamina-nya ‘down’ dan lumpuh. Sementara sang maling terus melumati perut dan menjilat- jilat bagian-bagian sensual tubuhnya.

Kebringasan serta kebrutalan hasrat syahwat maling ini semakin meroket ke puncak. Jelas akan memperkosa istriku di depan aku suaminya. Dia bangun dari ranjang dan dengan cepat melepasi T. Shirt serta celana dekilnya. Dia menelanjangi dirinya. Aku terkesima. Maling itu memiliki postur tubuh yang sangat atletis dan menawan menurut ukuran tampilan tubuh lelaki. Dengan warna kulitnya yang coklat kehitaman berkilat karena keringatnya nampak dadanya, otot lengannya perutnya begitu kencang seperti pelaku binaraga. Tungkai kakinya, paha dan betisnya sungguh serasi banget.

Yang membuat aku terperangah adalah kemaluannya. kont*l maling itu begitu mempesona. Muncul dari rimbun jembutnya kont*l itu tegak ngaceng dengan bonggol kepalanya yang juga berkilatan karena kerasnya tekanan darah syahwatnya yang mendesakinya. Besar dan panjangnya di atas rata-rata kemaluan orang Asia dan nampak sangat serasi dalam warna hitaman pada awalnya kemudian sedikit belang kecoklatan pada leher dan ujungnya. Lubang kencingnya muncul dari belahan bonggol yang mekar menantang.

Kesan kekumuhan awal yang kutemui dari rambut dan jambang yang tak bercukur serta pakaiannya yang dekil langsung musnah begitu lelaki maling ini bertelanjang. Dia nampak sangat jantan macam jagoan.

Dalam ketakutan dan panik istriku Fatimah melihat saat maling itu bangun dan dengan cepat melepasi pakaiannya. Begitu lelaki maling itu benar-benar telanjang aku melihat perubahan pada wajah dan mata istriku. Wajah dan pandangannya nampak terpana. Yang belumnya layu dan kuyu kini beringas dengan mata yang membelalak. Mungkin karena ketakutannya yang semakin jadi atau karena adanya ’surprise’ yang tampil dari sosok lelaki telanjang yang kini ada bersamanya diranjangnya. Anehnya pandangannya itu tak dilepaskannya hingga ekor matanya mengikuti kemanapun lelaki maling itu bergerak.

Walaupun aku tak berani menyimpulkan secara pasti, menurut pendapatku wajah macam itu adalah wajah yang diterpa hasrat birahi. Adakah birahi Fatimah bangkit dan berhasrat pada lelaki maling yang dengan brutal telah mengikat dan menelanjangi tubuhnya di depan suaminya itu. Ataukah ’surprise’ yang disuguhkan lelaki itu telah membalik 180 derajat dari takut, marah dan benci menjadi dorongan syahwat yang dahsyat yang melanda seluruh sanubarinya? Ahh.. Aku dirasuki cemburu buta. Aku sering mendengar perempuan yang jatuh cinta dengan penculiknya.

Lelaki maling turun dari ranjang dan merangkak di depan arah kaki Fatimah yang terikat. Dia meraih kaki Fatimah yang terikat dan mulai dengan menjilatinya. Lidahnya menyapu ujung-ujung jari kaki istriku kemudian mengulumnya.

Aku menyaksikan kaki Fatimah yang seakan disengat listrik ribuan watt. Kaget meronta dan meregang- regang. Aku tidak pasti. Apakah itu gerak kaki untuk berontak atau menahan kegelian syahwati. Sementara lelaki maling itu terus menyerang dengan jilatan-jilatannya di telapaknya. Demikian dia melakukan pada kedua tungkai kaki istriku untuk mengawali lumatan dan jialatan selanjutnya menuju puncak nikmat syahwatnya.

Dengan caranya maling itu memang sengaja Menjatuhkan martabatku sebagai suami Fatimah.

“Mas, istrimu enak banget loh. Boleh aku ent*t ya? Boleh.. Ha ha. Aku ent*t istrimu yaa..”

Dan aku disini yang tergolek macam batang pisang tak berdaya hanya mampu menerawang dan menelan ludah.

Namun ada yang mulai merambati dan merasuk ke dalam sanubariku. Aku ingin tahu, macam apa wajah Fatimah saat kont*l maling itu nanti menembusi kemaluannya. Dan keinginan tahuku itu ternyata mulai merangsang syahwat birahiku. Dalam tergolek sambil mata tak lepas memandangi ulah lelaki maling telanjang yang melata bak kadal komodo di atas tubuh pasrah istriku yang jelita kont*lku jadi menegang. Aku ngaceng.

Kusaksikan betapa maling itu merangsek ke Selangkangan istriku. Dia menciumi dan menyedoti paha Fatimah serta meninggalkan merah cupang di setiap rambahannya. Namun yang membuat jantungku berdegup kencang adalah geliat-geliat tubuh istriku yang terikat serta desah dari mulutnya yang terbungkam. Aku sama sekali tidak melihatnya sebagai perlawanan seorang yang sedang disakiti dan dirampas kehormatannya. Istriku nampak begitu hanyut menikmati ulah maling itu.

  Dan klimaks dari pergulatan ‘perkosaan’ itu terjadi. Lelaki maling itu menenggelamkan bibirnya ke Bibir vagina Fatimah. Dia menyedot dan mengenyoti itil istriku dan meneruakkan lidahnya menembusi gerbang kemaluannya. Tak terelakkan..

Dalam kucuran keringat yang terperas dari tubuhnya Fatimah menjerit dalam gumam desahnya. Pantatnya semakin diangkatnya tinggi-tinggi. Dia nampak hendak meraih orgasmenya. Bukan main. Biasanya sangat sulit bagi Fatimah menemukan orgasme. Kali ini belum juga maling itu melakukan penetrasi dia telah dekat pada puncak kepuasan syahwatnya. Ah.. Lihat ituu.. Benar.. Fatimah meraih orgasmenya.. Nittaa..

Dia mengangkat tinggi pantatnya dan tetap Diangkatnya hingga beberapa saat sambil terkejat-kejat. Nampak walaupun tangannya terikat jari-jarinya mengepal seakan hendak meremas sesuatu. Dan kaki-kakinya yang meregang mengungkapkan betapa nikmat syahwat sedang melandanya. Itulah yang bisa ditampilkan olehnya dikarenakan tangan serta kakinya masih terikat ke ranjang.

Dan sang maling tanggap. Sebelum keburu Fatimah Kelelahan dia naik menindih tubuh istriku dan menuntun kont*lnya ke lubang vaginanya. Beberapa kali dia mengocok kecil sebelum akhirnya kemaluan yang lumayan gede dan panjangnya itu tembus dan amblas ditelan mem*k istriku.

Maling itu langsung mengayun-ayunkan kont*lnya ke lubang nikmat yang sepertinya disemangati oleh istriku dengan menggoyang dan mengangkat-angkat pantat dan pinggulnya agar kont*l itu bisa menyentuhi gerbang rahimnya.

Aku sendiri demikian terbakar birahi Menyaksikan peristiwa itu. Khususnya bagaimana wajah istriku dengan rambutnya yang berkeringat mawut jatugh ke dahi dan alisnya. kont*lku sangat tertahan oleh celana sempitku. Aku tak mampu melakukan apa-apa untuk Melepaskan dorongan syahwatku.

Genjotan maling itu semakin cepat dan sering. Aku pastikan bahwa maling itu sedang dirambati nikmat birahinya. kont*lnya yang semakin tegar kaku nampak licin berkilat karena cairan birahi yang melumurinya nampak seperti piston diesel keluar masuk menembusi mem*k istriku. Aku bayangkan betapa nikmat melanda istriku. Dengan kondisinya yang tetap terikat di ranjang, pantatnya nampak naik turun atau mengegos menimpali pompan kont*l lelaki maling itu.

Sebentar lagi spermanya akan muncrat mengisi rongga kemaluan istriku. Dan nampaknya istrikupun akan mendapatkan orgasmenya kembali. Orgasme beruntun. Bukan main. Selama menikah aku bisa hitung berapa kali dia berkejat-kejat menjemput orgasmenya. Namun bersama maling ini tidak sampai 1 jam dia hendak menjemput orgasmenya yang ke dua.

Saat-saat puncak orgasme serta ejakulasinya semakin dekat, lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Fatimah dan tangannya meraih kemudian melepas lakban di mulut istriku. Namun dia tak memberinya kesempatan untuk teriak. Mulutnya langsung menyumpal mulut istriku. Aku saksikan mereka saling berpagut. Dan itu bukan pagutan paksa. Istriku nampak menimpali lumatan bibir maling itu. Mereka tenggelam dalam nikmatnya pagutan. Dan ahh.. ahh.. aahh..

Maling itu melepas cepat pagutannya dan sedikit bangkit. Dia menyambar pisau dapur yang masih ada di dekatnya. Dengan masing-masing sekali sabetan kedua ikatan tangan Fatimah terbebas. Dan pisau itu langsung dilemparkannya ke lantai. Tangan maling itu cepat memeluki tubuh istriku serta bibirnya memagutinya. Dan tanpa ayal dan ragu begitu terbebas tangan istriku langsung memeluki tubuh lelaki maling ini. Kini aku menyaksikan persetubuhan yang nyaris sempurna. Lelaki maling bersama Fatimah istriku langsung tenggelam mendekati puncak syahwatnya.
Hingga…

“Aarrcchh.. Cantikk.. Aku keluaarr..
Hhoohh.. Ampun
enaknyaa..”

Istriku juga mendesis hebat, tak ada omongan namun jelas, dia kembali meraih orgasmenya. Dengan tangannya yang bebas dia bisa melampiaskan gelegak birahinya. Tangannya mencakar punggung maling itu dan menancapkan kukunya. Nampak bilur sejajar memanjang di kanan kiri punggungnya merembes kemerahan. Punggung maling itu sempat terluka dan berdarah.

Masih beberapa saat mereka dalam satu pelukan sebelum pada akhirnya lelaki maling itu bangkit dan menarik kont*lnya dari kemaluan istriku. Aku langsung menyaksikan spermanya yang kental melimpah tumpah dan meleleh dari lubang vagina Fatimah. Sesaat mata maling itu melihati tubuh istriku yang nampak lunglai. Dia lantas bergerak efektif.

Maling itu turun dari ranjang, memakai celana dan T.Shirt-nya. Dia mencopot selembar sarung bantal. Dia mengeluarkan dari kantongnya HP-ku dan HP istriku, jam tangan, perhiasan dan segepok uang simpananku, mungkin hanya sekitar 500-an ribu rupiah. Dia masukkan hasil curiannya ke sarung bantal itu. Tak sampai 2 menit sejak turun ranjang dia langsung keluar dan kabur meninggalkan aku yang masih terikat tak berdaya di lantai dan Fatimah yang telanjang sesudah diperkosanya. Dia telah mencuri barang-barangku dan menikmati tubuh dan kemaluan istriku.

Fatimah nampak bengong sambil melihati aku,

“Maaf, maass.. Aku harus memuaskan nafsu syahwatnya agar dia tidak menyakiti Mas..” Fatimah sudah siap dengan alibinya. Aku hanya diam. Nikmat seksual memang bisa mengubah banyak hal.

Hingga kini, sesudah 8 tahun menikah hingga mempunyai 2 anak aib itu tak pernah diketahui orang. Kami sepakat menyimpannya dalam-dalam.

Sesekali kulihat istriku bengong. Aku memakluminya. Setidaknya memang postur tubuhku serta kaliber kemaluanku tak mungkin mengimbangi milik lelaki maling itu.

Tamat

Aku memastikan bahwa Fatimah telah tenggelam dalam hasrat seksualnya. Dia menggeliat-geliat dan menggoyang-goyangkan tubuhnya teristimewa pinggul serta pantatnya. Fatimah dilanda kegatalan birahi yang sangat dahsyat dan kini nuraninya terus menjemput dan merindui kenyotan bibir si maling itu. Dalam pada itu aku berusaha tetap berpikir positip. Bahwa sangat berat menolak godaan syahwat sebagaimana yang sedang dialaminya. Secara pelan dan pasti kont*lku sendiri semakin keras dan tegak menyaksikan yangharus aku saksikan itu.
Istriku mengeluarkan air mata dan menangis, menggeleng-geleng kepalanya sambil mengeluarkan dengus dari hidungnya.

“Diam nyonya cantiikk.. Jangan membuat aku kalap lhoo..” kembali istriku ‘klakep’ dan sepi.
 
http://cucimat4.blogspot.co.id/2012/11/cerita-dewasa-istriku-diperkosa-maling.html
Cerita Dewasa - Seks ini terjadi ketika aku sedang cuti
dan bermain di kota bandung. Cerita Sex Dewasa
Terbaru ini tak pernah bisa aku lupakan sama sekali.
Yuk kita Mulai saja Cerita Dewasa ini. Suatu hari
cutiku di Bandung, aku menyempatkan diri untuk
fitness, menjaga kondisi tubuhku. Aku kerja di
Jakarta, di sebuah event organizer ternama. Hampir
setiap dua hari sekali sehabis pulang kerja aku
fitness di sebuah hotel, dengan peralatan fitness yang
lengkap. Maklum, pekerjaanku membutuhkan
vitalitas tinggi. Maka walaupun libur di Bandung,
atau tepatnya pulang ke kampung halaman, aku
tidak pernah melewatkan olahragaku yang satu *****
O ya, aku Aryo , biasa dipanggil Ary. Usiaku 30 tahun,
dan belum menikah. Tentunya hal ini merupakan
keuntunganku untuk bisa menikmati masa bujang
lebih lama, having fun dan get a life.
Sebenarnya tujuan fitnessku semula iseng, ingin
melihat wanita-wanita sexy berpakaian ketat (baju
senam), tapi akhirnya terasa manfaatnya, otot
perutku rata, bisep dan trisepku terbentuk, hingga
membuatku percaya diri. Tapi tentunya kegiatanku
ngeceng wanita berpakaian sexy tidak pernah
kulewatkan. Sambil menyelam minum air.. he he
hee.
Ok, akhirnya kupilih sebuah hotel di bilangan Asia
Afrika. Aku membiasakan tidak langsung pulang ke
rumahku. Satu hari cutiku, kumanfaatkan untuk
menikmati Bandung sendirian, daripada dengan
orang-orang rumah. Orang tuaku termasuk old
fashion, yang penuh dengan aturan ketat, walaupun
ku sadar hal itulah yang dapat membuatku hidup
mandiri.
Hari itu masih sore sekitar pukul 16. 30. Setelah aku
cek in dan beristirahat sebentar, kumanfaatkan
fasilitas fitness gratisku. Aku mulai mengganti bajuku
dengan celana pendek dan t-shirt tanpa lengan.
Ketika aku memasuki ruang fitness, aku melihat
sekeliling, masih agak kosong. Hanya ada beberapa
pria di beberapa alat. Hmm, this is not my lucky day,
pikirku sambil berjalan menuju sepeda statis. Ku
kayuh sepeda itu sekitar lima menit dan beralih ke
beberapa alat lainnya.
Sepuluh menit menjelang pukul lima sore, satu, dua
wanita masuk. Ok, this isn't my unlucky day after all.
Aku makin semangat menarik beban. Diikuti
beberapa wanita lainnya, yang tentunya berpakain
senam, warna-warni, ada yang memakai celana
panjang cutbray dan kaos ketat, short pants dan
atasan model sport bra, menambah indahnya
pemandangan tempat fitness tersebut. Beberapa di
antara mereka ada yang duduk, ada yang ngobrol,
cekikikan, dan mencoba beberapa alat. Oh, mungkin
mereka mau ber-aerobic, pikirku.
Betul saja ketika seorang wanita berpakaian seperti
mereka masuk dan menotak-ngatik tape compo, dan
terdengarlah suara musik house dengan tempo cepat.
Masing-masing mereka menyusun barisan dan mulai
bergerak mengikuti instruktur. Gerakan demi gerakan
mereka ikuti. Masih pemanasan.
Tiba-tiba seorang wanita masuk, sangat cantik
dibanding mereka, tinggi 165 kira-kira, rambut
panjang diikat buntut kuda, memakai pakaian senam
bahan lycra mengkilat warna krem dengan model
tank top dan g-string di pantatnya. Bongkahan
pantatnya tertutup lycra ketat warna krem lebih
muda, sehingga menyerupai warna kulit tangannya
yang kuning langsat hingga kaki yang tertutup kaos
kaki dan sepatu. Woow, sangat seksi. Tak sengaja
kulihat bagian dadanya karena handuk yang
menggantung di pundak ditaruhnya dikursi dekat
dengan alat yang kupakai. Tonjolan putingnya terlihat
jelas sekali, menghiasi tonjolan indah yang kira-kira
36 b ukurannya. Sedikit melirik ke arahku lalu
akhirnya mencari barisan yang masih kosong dan
mengikuti gerakan instruktur. Dadaku berdegup
kencang pada saat dia melirik walaupun hanya
sedetik.
Gerakan demi gerakan instruktur diikutinya, mulai
dari gerakan pemanasan hingga gerakan cepat
melompat-lompat sehingga bongkahan payudaranya
bergerak turun naik. Batangku mulai membengkak
seiring dengan lincahnya gerakan si dia. Mataku
terus tertuju pada si dia. Posisiku kebetulan sekali
membentuk 45 derajat dari samping kirinya agak ke
belakang. Hmm betapa beruntungnya diriku. Hingga
akhirnya dia melakukan gerakan pendinginan.
Keringat membasahi bajunya, tercetak jelas di
punggung dan dadanya, sehingga tonjolan puting itu
terlihat jelas sekali, ketika dia memutar badan ke kiri
dan ke kanan.
Hingga akhirnya aku dibuat malu. Ketika aku
memperhatikan dia, dia pun memperhatikanku lewat
pantulan kaca cermin yang berada di depannya ketika
aku mengalihkan pandangang ke kaca. Dia
tersenyum kepadaku lewat pantulan cermin. Entah
berapa lama dia memandangku sebelum aku sadar
dipandangi. Aku langsung memalingkan muka dan
beranjak dari alat yang kupakai.
Aku segera berganti pakaian untuk berenang. Segera
kuceburkan diri untuk mendinginkan otak. Dua atau
tiga balikan kucoba berganti gaya hingga akhirnya
balikan ke empat gaya punggung, kepalaku menabrak
seseorang dan terjatuh menyelam ke air. Sama-sama
kami berbalik dan setelah berbalik ku sadar yang ku
tabrak adalah pantatnya si dia yang telah berganti
pakaian renang, potongan high cut di pinggul dengan
warna floral biru yang seksi. Kini tonjolan putingnya
tersembunyi dibalik cup baju renangnya, membuatku
sedikit kecewa.
"Eh, maaf Mbak, nggak kelihatan, habis gaya
punggung sih" kataku meminta maaf.
"Nggak kok Mas, aku yang salah, nggak lihat jalur
orang berenang", jawabnya sambil mengusap muka
dan rambutnya ke belakang.
Si dia tersenyum kembali ke arahku, sambil lirikan
matanya menyapu dari muka hingga bagian pusarku.
"Kenalan dong, aku Aryo, biasa dipanggil Ary", kataku
sambil menyodorkan tangan.
Dijabatnya tanganku sambil berkata"Linda,
lengkapnya Melinda", jawabnya.
Kami menepi ke bibir kolam, sambil mencelupkan diri
se batas leher masing-masing. Kami duduk
bersampingan.
"Baru disini Mas?", Linda mulai lagi membuka
pembicaraan.
"Iya, tapi jangan panggil Mas, Ary aja cukup kok. Aku
asli Bandung, tapi memang baru kes***** Aku kerja
di Jakarta. Kamu Lin?", ku balik bertanya.
"Aku asli Bandung juga, kerja di bank B**, jadi CS.
Deket sini kok, seberangan. Aku biasa aerobic dan
renang disini, duahari sekali, yang ada jadwal
aerobicnya saja".
Pembicaraan kami berkembang dari hal kerjaan
mengarah ke hal-hal yang lebih pribadi. Linda baru
putus dengan pacarnya, kira-kira dua minggu yang
lalu. Keluarga pacarnya tidak setuju dengan Linda
dan pacarnya dijodohkan dengan orang lain pilihan
keluarganya. Agak sedih Linda bercerita hingga..
"Lin, balapan yuk ke seberang, gaya bebas", ajakku.
"Hayo, .. siapa takut?", jawabnya.
Kami berdua berlomba sampai sebrang. Aku sedikit
curang dengan mendorong bahunya ke belakang
sehingga Linda sedikit tertinggal. Pada saat aku
duluan di seberang..
"Ari, kamu curang, kamu curang", rengeknya sambil
memukul-mukul tanganku.
Aku tertawa-tawa dan bergerak mundur menjauhi
Linda. Dia mengejarku, sampai akhirnya"Byurr, .".,
aku terjatuh kebelakang. Kakiku menyenggol
kakiknya hingga diapun terjatuh dan kami berdua
tidak sengaja berpelukan. Dadanya yang empuk
menyentuh dadaku, membuat batangku kembali
membengkak. Ketika sama-sama berdiri, kami masih
berpelukan walau agak renggang.
Kami saling pandang, kemudian Linda memelukku
kembali. Kesempatan ini tidak ku sia-siakan dengan
balas memeluknya. Udara Bandung yang dingin pada
sore yang beranjak malam tersebut, menambah
kuatnya pelukan kami. Batangku yang sedari tadi
mengeras menyentuh perut bagian bawahnya Linda,
atau tepatnya diatas kemaluan Linda sedikit. Pantat
Linda bergerak mendorong, hingga batangku geli
terjepit antara perut Linda dan perutku. Berulang-
ulang Linda melakukan itu, sehingga darahku
berdesir.
"Emhh."., Linda bergumam.
Sadar aku berada di tempat umum, walaupun kolam
renang agak sepi, hanya ada tiga orang selain kami,
membuatku agak sedikit melepaskan pelukan walau
sayang untuk dilakukan.
"Lin, mending kita sauna yuk!", ajakku menetralkan
suasana.
Linda terlihat agak kecewa dengan sikapku yang
sengaja kulakukan.
"Oke!", jawabnya singkat.
Kami berdua mengambil handuk di kursi pinggir
kolam, dan berjalan bersamaan, menuju ruang sauna
yang tak jauh dari kolam renang. Terbayang apa yang
dilakukan Linda saat di kolam, membuatku
menerawang jauh menyusun rencana dengan Linda
selanjutnya.
"Kosong."., kataku dalam hati melihat ruang sauna.
Kami berdua masuk, dan aku sengaja mengambil
tempat duduk dekat pintu, sehingga orang lain tidak
dapat melihat kami beruda lewat jendela kecil pintu
sauna.
"Lin."., belum sempat aku bicara, Linda menciumku
di bibir.
Bibir kami saling berpagut melakukan french kiss.
Penetrasi lidah Linda di mulutku, menunjukkan dia
sangat berpengalaman. Tangan Linda memegang
dadaku, kemudian mengusap menyusuri perut hingga
sampai pada batangku yang sudah berdiri dari tadi.
Linda meremas batangku yang masih terbungkus
celana renang, sementara kuremas dua gunung
montok. Betapa kenyal dan kencang sekali
payudaranya.
Temperatur ruang sauna menambah panasnya hawa
disana. Kubalik Linda membelakangiku. Kuciumi
tengkuknya, dan ku remas payudaranya".Emhh.. Ary..
ahh", Linda melenguh. Ku susupkan tanganku ke
payudaranya, dari celah baju renangnya. Ku pilih
putingnya, dan membuat Linda sedikit menjerit, dan
menggelinjang. Untungnya ruangan sauna kedap
suara.
"Ary, aku butuh kamu Ry, .. malam ini saja.. ahh.".,
Linda berbisik di telingaku, sambil masih kumainkan
putingnya.
"Lanjutkan di kamarku yuk, ..!" ajakku.
Punggung Linda menjauhi badanku dan berbalik.
"Kamu cek in di s*****.?", tanyanya dengan muka
sedikit gembira.
"Bukannya kamu.".
"Ya sayang."., sambil akhirnya kutempatkan jari
telunjukku di mulutnya.
Akhirnya kujelaskan alasanku.
Satu-satu kami keluar dari ruang sauna. Linda
bergegas ke ruang ganti. Begitupun diriku. Setelah
siap, Linda menenteng tasnya dan kami pun berjalan
bersamaan. Kami berjalan sambil memeluk pinggang
masing-masing, layaknya sepasang kekasih yang
sudah lama pacaran. Stelah mengambil key card dari
recepsionist, kami naik ke kamarku di 304.
Setelah masuk, pintu ditutup, dan langsung kami
merebahkan diri di ranjang. Untung ku pilih tempat
tidur sharing. Linda masih memakai baju seragam
banknya, lengkap dengan blazer, sepatu hak tinggi
dan stocking hitam menggoda. Seksi sekali!
Linda di bawah sementara aku diatasnya menciumi
bibimnya. Sesekali kujilat leher dan telinganya. Linda
meracau memanggil-manggil namaku. Kubuka
blazernya. Dari blouse putih tipis yang masih
menempel, terlihat jelas puting berwarna coklat
menerawang. Hmm, sengaja tidak memakai bra
pikirku. Kubuka kancingnya satu persatu. Kujilati
dadanya. Lidahku menyapu dua bukit kembarnya
yang mengencang. Rambutku diusapnya sambil dia
melenguh dan memanggil namaku berkali-kali.
Sesekali kugigit putingnya.
Roknya kusingkapkan, ternyata dibalik stocking
hitamnya itu, Linda tidak memakai CD lagi. Ku jilat
kemaluan Linda yang masih terhalang stocking. Noda
basah di bibir vagina tercetak jelas di pantyhosenya.
Linda semakin mecarau dan menggelinjang. Ku gigit
sobek bagian yang menutupi vaginanya yang basah.
Kujilati labia mayoranya. Perlahan kusapu bibir
vagina merah merekah itu. Kucari klitorisnya dan
kumainkan lidahku di sana.
Linda mengejang hebat, tanda orgasme pertamanya.
"Emhh Arryy.. ahh", Linda sedikit berteriak tertahan.
"Makasih sayang.. oh.. benar-benar nikmat..!".
"Pokoknya ganti stocking ku mahal nih", Linda
merengek sambil cemberut.
"Oke, tapi puaskan dulu aku Lin, ."., jawabku sambil
rebahan di ranjang.
Linda kemudian berbalik dan berada di atasku.
Blouse terbuka yang masih menempel itu
disingkirkannya. Hingga terpampanglah dua bukit
menggantung di atasku. Vagina basah Linda terasa di
perutku. Rok yang tersingkap dilepasnya lewat atas.
Tinggal stocking yang masih menempel, sepatunya
pun telah lepas.
Linda kembali menciumiku. Lidahnya menyapu
dadaku dan putingku. Sesekali digigitnya, membuatku
juga menggelinjang kegelian. Kemudian lidahnya
menyapu perutku hingga sampai ke batang penisku
yang tegak. Linda mengocoknya perlahan. Ujung
lidahnya menari di lubang kencingku. Rasa hangat itu
terasa manakala lidahnya menyapu seluruh
permukaan penisku. Seluruh batang penisku
terbenam di mulut Linda. Sambil dikocok, keluar
masuk mulutnya Linda.
"Ohh..!" aku pun tak luput meracau.
Hampir terasa puncakku tercapai, ku dorong linda
menjauhi penisku, aku bangun dan berlutut di
belakang Linda.
"Masukkin Ry, fuck me please, Ohh.. arrghh.. Arryy!",
Linda berteriak seiring dengan masuknya batang
penisku sedikit-demi sedikit lewat celah stocking yang
kugigit tadi.
"Bless."..Pantat Linda bergerak maju mundur,
demikian juga pantatku, saling berlawanan.
"Oh.. ooh.. ahh.. ahh.. God, .. fuck me harder..
Aaahh.. Ary.. yes", begitulah kalinat tak beraturan
meluncur dari mulut Linda, bersamaan dengan
semakin capatnya gerakanku.
Ku remas-remas bongkahan pantat seksinya. Linda
menjilati jari-jarinya sendiri.
"Mmhh.. Aaahh.. mmh."., desah Linda yang
membuatku semakin bernafsu untuk menggenjot
pantatku.
Kemudian kami berganti posisi. Aku berbaring dan
Linda berada di atasku. Linda mengambil ancang-
ancang untuk memasukkan penisku ke dalam vagina
basahnya. Linda terlebih dahulu mengusap-usapkan
penisku di bibir vaginanya. Aku makin kelojotan
dengan perlakuan Linda. Centi demi centi penisku
dilahap vagina Linda.
"Blessh."., lengkap sudah penisku dilahap vaginanya.
Linda bergerak turun naik beraturan. Payudaranya
bergoyang turun naik pula. Pemandangan indah
terebut tidak kulewatkan saat badanku bangun, dan
wajahku menghampiri payudaranya. Kuremas dua
gunung kembar yang begoyang mengikuti irama
siempunya. Kujilati dan kusedot bergantian.
"Errgh.. erghh.. ahh."., Linda mendesah tanda
menikmati genjotannya sendiri.
Kini kutarik tubuh Linda sehingga ikut berbaring di
atas tubuhku. Ku mulai menggenjot pantatku dari
bawah. Linda teridam dan menengadahkan
kepalanya, dan sesaat kemudian Linda berteriak
meracau.
"Arrgghh.. oohh.. aah.. enakkhh.. aahh.. nikmathh..
ooh."., serunya.
Kuyakin posisi seperti ini membuatnya merasakan
sensasi yang tiada duanya.
5 menit dengan posisi seperti itu, Linda mengejang,
dan berteriak panjang", AARRGHH.. Shit.. Uuuhh..
Ary.. aaihh."., tanda dia mencapai orgasme.
Terlepas penisku dari vaginanya tatkala Linda ambruk
di sisiku. Linda ngos-ngosan kecapean. Kini giliranku
untuk mendapatkan kepuasan dari Linda. Kubalik
tubuh penuh keringat yang mengkilat terkena cahaya
lampu. Sungguh seksi sekali dia saat itu. Kubuka
kedua kakiknya, dan ku lucuti stocking hitam yang
masih menempel di kakinya yang mulus. Terlihat
indah kaki nan putih mulus dari pantat hingga betis.
Kujilati lubang anus Linda, dan membuat dia sedikit
mengangkat pantatnya keatas.
"Please.. Ary.. not now.. Give me a break.. Ohh.".,
ratapnya ketika mendapat perlakuanku.
Aku tak mempedulikan ratapannya. Justru aku
semakin gila dengan perlakuanku, menjilati lubang
anusnya dan membuat penetrasi di lubangnya
dengan lidahku. Area perineumnya pun tak luput ku
jilati. Hingga akhirnya kuputuskan untuk mensodomi
Linda, karena kulihat lubang anus Linda agak sedikit
besar dibanding orang yang belum pernah disodomi.
"Lin, siap ya."., kataku sambil mengusapkan ludahku
di penis yang masih berdiri tegak.
"Apa.., mau apa Ry.. kamu ma.. AAHH, .. Aryy..
Janng.. aahh", belum selesai Linda bicara, aku telah
menancapkan penisku di anusnya.. begitu hangat,
sempit dan lembut.
Kutarik kembali perlahan dan kumasukkan lagi.
Iramanya ku percapat. Linda pasrah, dan meracau
tak karuan.
"Eh.. Ehh.. gimana, .. eh.. enak.. lin..?, tanyaku
sambil menggenjot pantat Linda seksi nan aduhai.
"Ohh.. Arriieh.. aagh.. nikmat rii.. ah.. Shitt.. C'mon..
harder baby."., jawabnya.
10 menit aku memompa batang penisku di anusnya,
terasa cairan sperma sudah ada di ujung kepala
penisku. Buru-buru kutarik keluar penisku, dan
kubalik Linda menghadapku. Sambil kukocok,
spermaku muncrat di muka Linda. Linda yang tidak
siap menerima spermaku di mukanya, mengelengkan
kepala kiri dan kanan, hingga spermaku membasahi
rambut dan pipinya. Hingga akhrinya mulutnya
terbuka, dan sisa semprotan spermaku masuk di
mulutnya. Setelah spermaku habis, dia mengulum
penisku. Aku yang masih merasa geli namun nikmat,
semakin menikmati sisa-sisa oragasme panjangku.
"God.. Thank you dear.. Linda."., kataku sesaat
setelah roboh ke samping Linda.
"Curang lagi kamu Ry, .. Tau gitu ku minum
semuanya.. kasi tau kek mau mucrat di muka, gitu",
Linda cemberut menjawabnya.
Aku hanya tersenyum. Tak terasa kami bercinta
cukup lama, hingga jam 10 malam.
Akhirnya Linda memutuskan untuk bermalam di
kamarku. Kami masih melakukannya beberapa kali
hingga subuh. Toh, hari itu akhir pekan dan Linda
memang libur di hari Sabtu. Pertemuan pertama
itulah pula yang membuat kami berpacaran selama 6
bulan hingga akhirnya kami putus. Masih banyak
Linda yang lain. Bagi pembaca (wanita) yang ingin
menjadi Linda denganku, email saja ya. Kutunggu
curhatnya.

http://www.radarjember.com/2012/11/cerita-dewasa-berawal-dari-tempat.html

Cerita Dewasa Franda

Dua dara tengah berbincang di sebuah meja makan foodcourt kampus, Universitas ternama artis kita, Efranda Stephanus. Atau lebih akrab disapa VJ Franda atau Franda saja.
“eh Nda.. gila deh, ini artis khan pendatang baru.. tapi main di film ini, film itu. Lebih muda dari lu padahal, masa elu kalah sama dia. Gw perhatiin, banyakan dia deh filmnya daripada lu,” ledek wanita yang duduk bersama Franda, membahas isi tabloid Cek & Ricek.“Ah nggak juga!”, Franda membela diri, dalam hatinya membenarkan hal tersebut. Sesekali ia lontar senyuman ke seorang pemuda yang duduk di kedai sama tempatnya minum lantaran pemuda itu terus pandangi dirinya tanpa berkedip sedikit pun.“Coba aja hitung filmnya.. adu sama lu, ayoh!” tantang teman Franda itu.Franda tidak suka dengan arah perbincangan, “udah ah, ngomong yang lain aja yang lebih bermutu!”.“Hahaay, takut kan lu?!” ejek temannya, Franda kesal bukan main dalam hati.Kemarahan Franda sedikit surut ketika pemuda yang terus memperhatikannya datang menghampiri. Wajah si pemuda memang tidak bisa dibilang tampan. Cenderung culun dengan tubuh gempal, pendek, berkacamata. Ia memperkenalkan diri bernama Ronald dan ingin minta tanda tangan. Pemuda itu sambil memperhatikan tanda tangan di foto yang dibawanya..sambil ia pandangi Franda dari dekat. Rupanya dia seorang maniak, sampai memperhatikan hal lain termasuk apa yang diminum Franda. “Wow! Sis Franda suka Fanta juga ya?” tanya fans Franda yang bernama Ronald-Ronald itu.“Ngg.. iyaaa!” jawab Franda diusahakan dengan senyum manis lantaran pertanyaan tidak penting sama sekali untuk dijawab. Pikir Franda, namanya juga jadi artis, resiko-lah, lumrah.“Sama dong Sis!” sahut Ronald itu. Di saat yang sama, (perasaan ‘gak nanya deh gw!), Franda membatin. Buru-buru saja ia tanda tangan dan menyerahkan kembali barang milik fans-nya itu.Bukannya mengucap terima kasih lalu pamit pergi, pemuda itu malah terus berdiri disitu dan bicara tak karuan, “Fanta lebih enak kalau dikolab sama susu, Sis!” usul-nya.“Hah? di koolab? Apaan tuh? Dicampur maksudnya?, Nggak juga! Aku lebih suka Fanta biasa sih,” sahut Franda agar pemuda itu tahu kalau Franda mulai muak dengan keberadaannya yang mengganggu dan ingin dia segera enyah pergi.“enak sis soda susu!” kata si Ronald lagi, terus memaksakan kehendak apa yang disukainya pada orang lain.Mungkin karena pemuda itu terbuat dari kulit Badak dan agak-agak tidak nyambung lantaran sedikit terbelakang dia jadi aneh seperti itu. “lagi juga nggak ada susu Maaas disini!” tambah Franda makin kesal padanya.“Susunya Sis Franda aja, kan enak susu perawan hehehe,” pemuda tersebut malah menyahut tanpa kenal sopan santun dan tahu aturan yang membuat Franda makin BT.“Hahahaha, Frandaa-Franda.. sekali punya fans yang kayak begini model-nya.. Hhh!,” sindir temannya, hal ini jadi bahan empuk dirinya makin diremehkan dan dijatuhkan. Persahabatan terkadang kejam tanpa disadari.“Eh Mas.. gw belum punya anak! So, nggak mungkin payudara gw keluar susu.. sekolah nggak sih loh?!” Franda kelepasan jadi ketus judes.
“Tetangga saya ada kok Sis yang begitu!,” pemuda itu malah ngotot mempertahankan alibi-nya yang tidak ilmiah, bukan sadar kalau Franda sudah gerah tidak suka padanya.“Capek deh, Gubrakk!!” Franda merebahkan kepala di meja menutup wajahnya, teman Franda yang tadi senang dipikir bisa meledek Franda, jadi jengah juga.“Eh Mas! nggak semua!, umumnya nggak gitu.. namanya juga gak umum, ya nggak semualah, mungkin aja terjadi, tapi tidak pada semua wanita! Lagi juga nggak etis banget sih laki-laki bicara masalah cewek sama cewek langsung! Mana ini tempat umum!,” kata teman Franda kesal disertai wajah jutek.“Kalau dia nggak mau pergi, kita aja yuk yang pergi?” kata Franda ke temannya sambil rogoh tas tangan cari dompet.“Sis Franda pulang naik apa? kalau naik busway kita kolab!” kata Ronald si pemuda, lagi-lagi untuk yang kesekian ribu kali mengulang kata-katanya.(apa sih nih orang?! kelainan jiwa, steb atau keterbelakangan mental barangkali.. kata-katanya nggak jauh dari kolab.. susu, perawan?), Franda bertanya-tanya dalam hati.Tiba-tiba lelaki berkepala botak menyela, “eit-eit-eit.. tunggu duluu! Mau kemana Nona-nona cantik!? jangan pergi dulu dong!. Dari tadi Abang perhatiin Non berdua ini digoda laki-laki tengik ini kan? Makanya pada mau pergi,” kata si Abang botak yang rupanya pelayan warung yang ditempati Franda dan kawannya.Franda jadi urung ambil dompet, ia memang masih ingin duduk dan ngobrol disitu jika saja pemuda sang pengganggu ‘Ronald’ itu pergi. Si Abang botak melipat kaus di lengan yang ibarat siap berkelahi.“Coy, jangan ganggu pelanggan orang ye!. Lu mau gua beri..? Hah..? Gua jotos ganteng lu!” kata si Abang dengan nada keras sambil mengepal tangan ke depan wajah Ronald.“Siapa yang ganggu?,” ujar Ronald dengan ekspresi wajah tak berdosa.“bujug nih bocah, entar gua lempar juga lu ke bangku Kora-Kora Dufan paling belakang biar jerit-jerit tahu rasa. Lu mahasiswa bukan sih? otak lu dimana Brur? di kepala kontol gua rasa, bukan disini!” sahut si Abang sembari menunjuk kepala botaknya.“Ada juga yang keganggu yang ditanya, bukan eLu-nya! Tolol!. Mahasiswa IPK nol koma kali lu ya? masa’ kalah sama gua yang SD aja ‘gak lulus? Bego lu! Nih gua tanyain langsung biar lu dengar, ehm, apa Non berdua merasa terganggu dengan kehadiran Masteng ini?”, tanya si Abang sembari menunjuk Ronald dengan gaya mengejek.“Masteng apa tuh Bang?” tanya balik Franda.“Mas-mas Tengil, heheheh,” jawab si Abang sembari menoleh ke Ronald.
Namun ekspresi pemuda itu tetap seperti anak SLB yang tidak mengerti pembicaraan orang dewasa normal. Sedang Franda dan temannya menutup mulut menahan ketawa.“ya kalau boleh jujur sih.. kita terganggu Mas..yang nggak, Nda? jawab dong, dia kan fans lu!” ujar teman Franda bernada keras agar Franda sedikit tegas.Franda berfikir sesuatu sebelum bicara, “Ngg..iya Mas, tapi by the way thanks ya sudah jadi fans aku. Cukup sampai sini kali yaa ketemuannya, kita kembali ke aktivitas masing-masing,” Franda bermaksud ingin mengakhiri dengan cara baik-baik. Salah orang!.“siapa yang nge-fans? Aku cuma mau perawanin dan perkosa susu sis kok!,” tanggap pemuda bernama Ronald itu ringan jauh di luar dugaan, sudah itu ia pergi begitu saja tanpa pamit serta merta dengan wajah polos pula.“itu.. Orang bukan sih? Apa manusia planet mana kali ya nyasar ke Bumi?” ujar Franda sembari garuk-garuk rambut padahal tidak gatal, lantaran tidak mengerti sikap aneh fans-nya itu. “ada ya Mahasiswa kayak gitu? OMES! Otak mesum! Freak! Weird! ihh” tambah teman Franda dengan ekspresi jijik di wajah.“Tuh anak lahirnya dilepehin kali sama Emak-nya! Bagus dia pergi, baru mau dilempar ke comberan biar nganyut bareng tinja!” si Abang botak ngomel-ngomel sendiri. “Nah.. Nona-Nona cantik.. silahkan dilanjut! penggangu sudah pergi” kata si Abang lagi dengan ramah.“makasih Bang,” sahut Franda dengan senyum manis, si Abang pun pergi dengan senang serasa jadi pahlawan.Teman Franda rupanya tidak lama juga pamit pergi setelah terdengar bicara dengan seseorang di HP. Tinggal ia termenung seorang diri. Franda berpikir keras, bagaimana cara agar para produser dan sutradara tertarik untuk selalu mengajak dirinya main film terus dan terus hanya dia saja. Jual diri ke pejabat atau cukong sudah, lalu harus bagaimana? Lobby hanya menghantar ia menjadi pembawa acara singkat berita olah raga malam hari. Kesibukan dan penghasilan yang tidak seberapa dibanding celebrity lain hingga memaksanya cari kesibukan di kampus dengan jadi staf, tidak sulit dengan nilai IPK tinggi ditambah wajah cantik. Jika ditelisik dari kasus Eyang Kabur yang masih hangat terdengar, itu berarti para artis juga main kotor lewat jasa ilmu ghoib / dukun. Persaingan di dunia hiburan memang sangat ketat. Tapi..darimana dia bisa kenal dukun? apalagi yang jaminan. Haruskah ia datangi seluruh dukun dan menjajal keahliannya satu persatu?. Sebagai entertainer yang baru naik daun, tentu ia bahan sorotan paparazzi, akan tercoreng nama baik jika ketahuan terlihat di tempat-tempat praktek dukun.
Franda tidak sadar terlarut lamunan, orang-orang di sekitarnya pergi satu demi satu lantaran langit menguning. Masih hanyut dalam lamunan, sebuah jari tangan hitam kehijauan sebesar pisang ambon membekap mulutnya,“eMpf! Mmpff!” rontaan Franda terhenti ketika menghirup aroma tangan pembekap mulutnya, mata serasa gelap, aromanya sangat tidak sedap dan ada bau-bau mistis sebangsa kemenyan.Bisa dibilang Franda sempat tak sadar seperti terbius, lemas tubuh namun masih dapat merasa dirinya dipapah sang penculik, dibawa ke balik semak belukar dan ditelungkupkan di atas rerumputan. Ia mendengar suara derit meja digeser yang entah untuk apa, tubuhnya lalu ditelungkupkan di atas meja bekas dia minum tadi. Kedua tangannya ditikung ke belakang dan di ikat erat dengan seutas tali. Herannya mulut tidak disumpal apa-apa, seakan sang penculik yakin, tidak takut, kalau Franda akan teriak minta tolong. Franda sempat berpikir, apakah pemuda bernama Ronald tadi yang melakukan ini lantaran dendam. Penculik yang hanya dapat diterkanya itu memelorotkan celana beserta dalamannya. Agar yakin, sang penculik menciumkan tangannya ke hidung Franda sekali lagi, dan Franda pun berangsur tertidur, yang lagi-lagi herannya tidak lama. Seakan sang penculik ingin Franda setengah sadar ketika diperkosa, namun tidak melawan ketika ditelanjangi. Sang penculik membalik tubuh Franda terlentang. Franda dapat sedikit membuka mata. Tubuhnya masih tidak dalam kendali penuh, lemas tak bertenaga. Ia dapat melihat penculiknya kini, seperti bukan manusia utuh, aneh, dengan kulit hitam agak kehijauan. Hanya mengenakan kolor berwarna hijau, dalam hati Franda terbesit. Ia ingat memang sedang ramai kasus Kolor Ijo yang memperkosa para Ibu Rumah Tangga. Tapi yang paling mengagetkan, ternyata sosoknya botak?! Abang-abang tadi! (Aargh!), teriak Franda dalam hati, tidak dapat berbuat apa-apa. Franda seperti kena ‘Sirep’, hanya dapat melihat tanpa mampu gerak maupun bersuara, apalagi teriak. Franda menatap langit…gelap! Berarti hari telah menginjak malam. Sekitarnya pohon rimbun, dan ia tergeletak tak berdaya di atas meja bundar tempatnya duduk berdua temannya tadi. Kakinya mengangkang terlipat seperti huruf ‘V’ dengan celana dan dalaman warna putih menggantung di kaki kiri. Kancing bajunya terbuka dua, mempertontonkan belahan dada ala Franda yang sangat seksi menggoda. Dan sialnya, wajah laki-laki kolor ijo beruntung itu ada di depan kewanitaannya. Keanehan kembali muncul, wajah pria itu tidak senyum mesum, senyum menang dsb, seperti biasa, justru tanpa ekspresi. Bahkan ketika dia lekatkan hidung ke vagina Franda juga terlihat biasa-biasa saja. Tanpa diketahui Franda, bukan penculik itu sebenarnya yang menikmati… namun seseorang yang berada di kejauhan. Dengan ilmu hitam tingkat tinggi, orang dikejauhan itu yang merasakan nikmatnya. Jadi apa yang sang penculik lihat, dia juga bisa melihat jelas, apa yang sang penculik hendus, indera penciuman orang sakti itu juga menciumnya tanpa kontak langsung.
‘Hmhhh.. haruumnya iki memek! Enaaak, Hak hak hak!’ celoteh si orang sakti dari kejauhan.Begitu juga ketika sang penculik menjulur lidah dan menyapukannya ke vagina Franda, si orang sakti yang berperawakan aki-aki itu merasakannya di mulut sampai liurnya menetes, ibarat lapar tiga hari belum makan dan kini menyeruput kuah baso yang lezat.Franda hanya mampu bersuara kecil, ‘engh.. nghh..’ menikmati perkosaan mulut sang Kolor Ijo. Jika saja ia dapat bergerak, ingin rasanya tangan menjambak rambut Kolor Ijo itu untuk lampiaskan gairah yang menggelegak. Franda sangat menyukai jilatan-jilatan rakus penculiknya, mulutnya sampai megap-megap dengan lidah terjulur keluar seperti ingin berkata, ‘eMhh… Ki-kimochi! layaknya pemain JAV.‘Slrrrphh.. Slrrrrrp!! Ahhh.. wuena’e memek jeng ayu iki! Aromae, wuiiih.. pancen oye poko’e!’ celoteh si orang sakti tentang vagina Franda yang serasa dijilat dan diemutnya.Dia pun merasa puas bukan main. Dapat cuma-cuma memperkosa dengan mulut vagina Franda yang bentuknya indah, rasanya manis dan aromanya wangi. Sang penculik bekerja keras menyapukan lidah, menjilat-jilat klitoris Franda, si orang sakti tinggal duduk santai mulut otomatis menikmati kelezatan itil Franda. Bahkan lendir manis vagina Franda terasa di lidah, tentu langsung ditelan oleh orang tua sakti itu. Keluarnya cairan vagina yang begitu banyak menandakan jebolnya pertahanan Franda, ia telah jauh terangsang. Kecantikan dan fisik Franda memang bak Bidadari Nirwana, tapi ia anak manusia. Bidadari Dunia. Manusia yang memiliki nafsu lahiriah. Jamak jika terus dicumbu, ia takluk juga dan akan pasrah disenggama siapa saja. Seolah dengan telepati, si orang sakti menyuruh sang penculik berhenti, lanjut ke kenikmatan yang lebih-lebih lagi, penetrasi. Ya…penetrasi. Sang penculik melepas kolor hijaunya. Penis ukuran penis kampung miliknya membuat Franda cemas khawatir. Tidak sebanding bukan tandingan, vagina Franda terlalu mungil. Apalagi liangnya, hampir tidak terlihat kasat mata hanya berupa garis. Tidak heran para cukong dan pejabat yang membooking tidak tahan lama menyetubuhinya. Mereka yang pada dasarnya orang kaya, ‘payah!’ di ranjang, hanya nafsu besar di awal, kebanyakan Ejakulasi Dini. Sang penculik melekatkan ujung kepala penisnya yang gundul besar seperti kepalanya. Digesek-gesek sepanjang bibir vagina Franda, daerah kewanitaan itu pun semakin basah dan licin. Lancarlah sudah jalan menuju nirwana yang akan dipandu Bidadari Franda. Kolor Ijo itu menekan penisnya agar masuk ke liang surga Franda. JLEB!, ‘Ookhh…!!’ si orang sakti merasakan kepala penisnya terhimpit daging vagina yang super legit luar biasa, sesuai dengan kondisi sebenarnya dimana kepala penis Kolor Ijo tertancap mantap di vagina Franda.‘Hh-hhh.. Slerrrrp! Ahh..’ si orang sakti menyapu liur-nya dengan tangan, saking enaknya dia sampai ngiler-ngiler, padahal baru kepala penis yang kejepit.Pikiran jorok dan nafsu binatang yang besar buatnya tak sabar, ingin seluruh batang penis masuk hingga pangkal ke liang pussy juicy Franda. Di lain sisi, Franda sedang kesusahan. Jelas ia menolak disetubuhi pria asing apalagi orangnya jelek, gratisan lagi. Namun sayang, tubuh berkata lain. Tubuh moleknya berkhianat, malah menikmati apa yang orang asing itu lakukan pada tubuhnya. ‘Dia..’ tubuh Franda, malah ingin ‘Tuan’ penis masuk lebih dalam, sedalam-dalamnya, agar kenikmatan lebih nyata dapat diraih.
Kolor Ijo itu mendorong paksa masuk penis. Sedikit demi sedikit vagina Franda dengan bodoh menelan penis kampung itu, dan banyak demi banyak liur si orang sakti meleler deras lantaran ke-enakan. SLUB!, vagina Franda mengunci seluruh batang penis, masuk sudah dari kepala sampai pangkal.‘O-ookhh… Memek artis memang e-enyaaaak, hhh..hhh..hhh..hhh!’, si orang sakti meracau dan nafasnya memburu lantaran penis akhirnya masuk total dan dicengkram erat-erat liang vagina Franda yang wangi, legit lagi sempit. Siapapun pasti iri.(Genjot habis memek Jeng ayu iki!!), perintah via telepati si orang sakti ke kolor ijo.Kolor ijo otomatis patuh, perlahan ia mengulur penis, baik Franda maupun si orang tua sakti sama-sama meliur keenakan menikmati pergesekan penis dan vagina. Vagina Franda mencengkram penis seakan tak rela jika ditarik habis keluar semua yang ternyata disisakan bagian kepalanya. Batang penis terlihat mengkilap, basah oleh lendir cinta vagina Franda.“Enghh!!” Franda meluapkan suara erangan kecil lantaran si kolor ijo menghujamkan penisnya masuk vagina hingga membentur dinding rahim.Begitu kerasnya sentakan hingga Franda yang di cap lemas tak dapat bersuara jadi mengerang juga. Sedang ekspresi wajah si orang sakti di kejauhan jelek tak karuan jeleknya. Sodokan itu nikmatnya sampai membuat wajah si tua itu terlihat blo’on. Beruntung dia, sodokan terulang berkali-kali, penisnya yang mengacung konak berkedut-kedut lantaran serasa bergesek dengan liang senggama Franda sungguhan.‘Ugh! Ugh! Ooh! Ugh!’, begitu lenguhan si orang sakti menikmati persetubuhannya dengan VJ Franda. Lewat telepati juga ia menyuruh kolor ijo meremas payudara dan memilin puting merah muda Franda.Sodokan-sodokan kolor ijo kian lama kian brutal, seirama erangan Franda maupun lenguhan si orang tua sakti. Aki-aki telanjang itu berdiri dari duduknya, ‘Aaakh..!! Aaaakh..!! Aaaaakh..!! Aaaaaakh!!’ lenguhnya serak parau, kian lama kian keras dan panjang mendekati ejakulasi. Ia menggeram menahan nafas, ‘Hrgkh!!’.CRAAAATS!!!, spermanya muncrat keluar dari penisnya yang mengacung tegak. CROOOTT!!! CROT! CROOT! ia mengejang nikmat ibarat orang kambuh ayan. Kolor Ijo berhenti menyodok seolah tahu Tuan-nya tengah klimaks, yang aneh penis dia malah tidak keluar sperma. Seolah mereka tukar setengah jiwa pisah raga.
Wajah si orang tua sakti nampak puas namun tidak lelah. Batang penisnya masih tegak gagah mengacung yang seperti masih kepingin menggauli Franda, entah karena dia sudah menenggak ramuan kuat senggama atau fisik tidak begitu lelah lantaran tak bersetubuh secara langsung atau karena Franda yang terlalu cantik dan seksi baginya, hingga dia tak kenal lelah. Kesemuanya mungkin terjadi. Namun sayang, niat cabul gagal berlanjut di kala sorotan sinar terang benderang dari dua lampu senter milik satpam kampus menyinari jalan dan semak-semak sekitar.“Li, aneh tuh.. kok meja tenda kayak kurang satu? Emang bisa jalan tuh meja?” tanya seorang satpam senior pada rekannya yang muda.“ya kagak-lah Beh, masa’ iye.. punya kaki dong berarti! kagak sekalian punya meki!” jawab satpam muda yang dipanggil Li-Li itu.“Hus.. lagi tugas jaga malem gini ngeres aja otak lu! entar disamperin pocong ngesot baru tahu!” omel si satpam tua.“Jiaah.. pocong sih ada yang ngesot. Ada juga loncat Beh,”.“ada noh..di pilem serem Indonesia nyang baru, ho-oh.. ngarang ye. Aneh-aneh aje pilem sekarang.. aneh tapi kagak mutu!.”.“Ye iye Beh, kagak sekalian tuh pocong salto sambil bilang Wow!”.“iye udeh lu ke semak sono gih, gua kesini!”.“Jiaah Babeh pinter.. nyari yang deketan, aye disuruh yang jauh!” keluh si satpam muda.“Huss, dosa nentang orang tue! udeh sono! entar gue tepak biji lu nyisa satu, mao?!”.“jangan dong Beh.. bisa mandul tujuh turunan aye,”.Mereka berdua pun berpencar. SREK!! SREK!! semak demi semak belukar mereka rintangi, si satpam tua melotot melihat sesuatu di depannya, ‘Haaahh…’ ia terpana. “LII!! ROJALIII…!!!, KEMARI!!!” teriaknya.“BEK? BENTAAR.. NANGGUNG!!”.“YAELAAH, CEPETAN!!!”.“BENTAR BEEH, LAGI NYARI DAUN DULU.. ABIS KENCING!! BUAT NYEKA PALA PELER!!”.“BUJUG BUNENG, UDEH PAKE LUDAH AJEE..!!. BUKANNYE KERJA MALAH.. SINI CEPET AH!!”.“IYE-IYE SABAR NAPE.. INI LAGI NGESOT KESITU,” (ada apaan sih? palingan juga takut dilihatin Kuntilanak! Rasain!), pikir Jali si satpam muda. ‘Heeeeh…’ giliran dia yang terperangah ketika tiba, keduanya berbarengan mulut keluar liur lantaran lihat Franda rebah di atas meja tenda minum dengan kaki ngangkang seperti huruf V, dan dalaman menggantung di betis. Vagina Franda yang mungil sedikit berbulu tipis luber cairan cinta terlihat jelas.
‘Tes..! Tes..! Tes..!’ liur mereka menetes di rumput bersamaan.“Li… gua masing idup ape di sorga nih? ape cuman ngimpi? Slrrrp!.”“Sakaratul maut kali.. Babeh kan udah bau tanah, Slrrrp!”“Sompret lu! Slrrrp!”.“ini artis ngentot aeh nge-top Beh.. asisten dosen juga, dulu mahasiswi bunga kampus sini, Neng Franda namanya, Slrrrrpp!” jelas si satpam muda sambil menghirup liurnya yang sebagian sudah tumpah.“Oo, gua tahu-gua tahu.. nyang maen di bioskop itu pan..Kung-pu Pranda? Slrrp!,”“Babeh sok u know, itu mah film kartun barat, Kungfu Panda. Bukan.. ini artis yang bawa acara lensa olahraga malem yang suka kite pantengin di tipi, sambil maen gaple ama ngemil gorengan di pos.”.“Ho-oh, Ho-oh.. gua baru inget!,”“jamak aje.. orang seumuran Babeh kan pikun.”.“Nyemot (Monyet) luh! nyela’ mulu!. Gua sering papasan di kampus ama ni anak, disenyumin.. waduhh, jadi dah ngaceng seharian si Justin, Slrrrp!” sahut si satpam tua juga menyapu lelehan liur di mulut dengan lidah.“Justin? name Babeh Sobirin, kontol namenye Justin, kerenan name kontolnye Beh!”“Diem lu ah! terus gimane.. kok si Neng ini diem aje kagak begerak? Jangan-jangan abis diperkaos aeh diperkosa?”.“bisa jadi Beh, antara die takut ape dipelet, ape jangan-jangan pacarnye kabur takut ketangkep terus dikawinin?” emang kite hang-sip (hansip) kampung lagi ronda!.“Ngaco lu Li! semua juga mao kawin ama anak cantik gini, homo aja tuh orang kalo kabur, goblok!. Diperkosa gua rasa nih, kagak bisa begerak, kena ilmu macem sirep atau hipnotis!”.“sok tahu Babeh ah,”.“Tong, satpam zaman sekarang rata-rata cuman bisa bela diri kayak lu.. angkatan gua beda, kudu punya pegangan juga!”.“Keren Beh punya pegangan, seriusan?,”.“ye ade-lah.. noh, bini di rumah!”.“Mpok Yuyun? Jiaaah.. entu mah dipegangin.. bukan pegangan. Ye udeh.. terus pegimane nih urusan? masa dibopong bugil gini masuk kampus? bisa jadi layar tancep buat anak kuliah malem entar.. ke-enakan!”. (kalo yang nonton aye sendiri mah kagak nape!), dalam hati si satpam muda sesungguhnya.
“Ye jangan,” sahut si satpam tua juga sok mikir padahal matanya terus melotot ke vagina Franda, tidak lepas memandang, “gini aje, gua usahain lepas sirep si Neng ini biar dia bisa pake pakaian.. lu sebentar cari ke sekitar semak. Gua yakin pemerkosanye ngumpet belon jauh kalo dilihat dari keadaan si Neng ini. Kudu kita tangkep tuh sebelon ade korban nyang laen!”, usul si satpam tua yang dipanggil Babeh itu dengan nada mantap dan meyakinkan.“siap Beh! Jali on duty,” sahut si satpam muda penuh semangat ‘45.“ho-oh deh sono, kagak ngarti gua entu bahase,”.Satpam muda bernama Rojali itu langsung mengemban tugas mencari tersangka pemerkosa yang berkeliaran. Sementara tanpa diketahui oleh Rojali, satpam tua rekannya malah memasukkan jari tengah gemuknya ke vagina Franda dan berulah mengobok-obok, Franda pun ‘ah-uh’ jadinya. Mulut artis keturunan itu megap-megap, dirasa Sobirin si satpam tua jarinya basah sekali, Franda orgasme rupanya. Dia tarik keluar jari untuk menciumnya, (sayang nonok si Neng udah kecampur sama bau kontol! kalo belon.. bakal gua jilatin nonok-nye ampe ledes!), katanya dalam hati, lalu buru-buru melepas celana dan kolor buluknya.Penis gemuknya yang sudah mengacung konak langsung dihujam masuk vagina Franda tanpa ba-bi-bu. Siapapun pasti sama tidak akan tahan. (Bujugg! nggkh!! liat bener nonok ni amoy!!) “Okh..enak!” lenguh satpam tua itu, ia langsung mencengkram kedua pergelangan kaki Franda dan merentangnya lebar-lebar, lantas bergerak menghentak brutal-brutal.“Ehh..ehh..ehh..ehh!,” desah Franda seksi dengan suara tipis. Ia masih belum bisa menggerakkan tubuh, hanya bisa pasrah disetubuhi. Namun sorot matanya yang sayu masih dapat melihat jelas satpam kampus yang menyenggamainya. Tulisan ‘sobirin’ tertera di baju putih satpam tua tersebut, Franda mencatat.Disaat yang sama, “Wooy! jangan lari luh!!,” suara itu teriakan Rojali ketika melihat kolor ijo yang sembunyi, lari lantaran tersorot lampu senternya. Babeh sempat menoleh sejenak berhenti menggenjot, namun sebentar lanjut karena vagina Franda serasa memijat-mijat penis gemuknya seolah minta kembali dipenetrasi.Tiba-tiba Franda merasa mendapat kembali tenaganya, namun ia merasa tanggung untuk menyudahi persetubuhan. Vagina-nya yang banjir lendir jelas sudah kecolongan masuk dan digesek-gesek penis gemuk hitam jelek seperti sosok satpam yang menyetubuhinya. Jadi ia biarkan saja semua berlanjut, toh terlanjur basah, sekalian saja mandi. Jika saja Sobirin ‘ngeh’, dia harusnya tahu Franda sudah lepas dari ‘Sirep’, desahan Franda lebih keras kini. Sirep itu telah dilepas si orang sakti lantaran sudah tiada guna. Korban sudah tak dapat dipakai lagi. Sobirin tidak ‘ngeh juga wajar, tubuhnya tengah diselubungi kenikmatan seks yang luar biasa. Baginya, bermain seks dengan wanita cleaning service paruh baya saja asoy, apalagi dengan wanita muda cantik jelita macam Franda.
“Anggh!! Anggh!! Anggh!! Anggh!!” Franda mengerang, tangannya berpegangan di sisi meja oleh sebab tubuhnya terpental dan kepalanya membentur tiang payung di tengah meja.Sobirin tidak menyadari kondisi menyakiti Franda itu, dia asyik memakai vagina Franda buat muncrat air mani-nya.“Jiah.. ane disuruh ngudak begundal, die asik enggong.. pinter bener dah! Bukannye ngelepas sirep, malah lepas kolor, hadeeeh, Babeh-Babeh.. culas deeh!” keluh Rojali, rupanya dia telah kembali karena gagal menangkap kolor ijo yang hilang secara ghoib. Sobirin masa bodo terus meng-kimpoy Franda. “Kapan lagi Tong.. bisa ewek-in cewek ca’em kayak si Neng ini? ohh-ohh,” tanggap satpam tua itu sambil terengah-engah.“iye juga sih.. paling mentok muke Babeh dapete babu!”“monyong lu!, Ukh! Ukh!,”.“abis ajak-ajak dong kalo ngewong.. sendirian aje!”.“sabar.. tap dulu,Hnggk!Kkkh!! Engkkh!!!” ekspresi Sobirin menunjukkan kalau dia ejakulasi, cengiran senang di bibir Rojali, berarti gilirannya sekarang.“eM.ahh.. ahh!” Franda mendesah pasrah merasakan cairan kental hangat satpam kampusnya tersembur begitu banyak di relung kewanitaannya, sampai-sampai luber keluar padahal penis masih menancap ketat tak ada celah.Satpam kampus tua itu menarik batang penis gemuknya ketika dirasa tak ada lagi air mani keluar, untuk sementara, ia cukup puas berhasil menyenggama Franda hingga sex klimaks. Gumpalan cairan kental putih pekat hasil karya-nya di vagina Franda, berhamburan keluar, menetes di rerumputan ketika ia usai mencabut.“Busyet! Beh.. ngen-crot dalem memek? Ntar anak orang bunting aje!,” Rojali cemas tapi kepingin juga.“emang gua pemaen pilem Be-eP, ngocok terus crot diluar.. mana enak? Hh..hh.. Biarin, kalo die bunting minta tanggung jawab, gua kawinin! Hh.. hh.. capek tapi, hh.. hh, enak! ngaso’ dulu ah!” sahut Sobirin sambil terengah dan merebah ke rerumputan.“Mana mao die ame Babeh biar kata bunting juga, mending ama aye yang muda-an!”.“siape tahu, kali aje!”.“Wooo.. ngarep! Mpok Yuyun mao dikemanain? Di lego? kagak bakal laku.. mane bekas Babeh lagi, dibuang ke tong sampah palingan!.”“Anak kurap lu! udeh.. mao coblos tuh nonok kagak? ngemeng aje, kalo kagak gua nyang nambah nih!”.“busyet! muke giile… doyan ape doyan Beh? Emang kemek di warteg nambah! ya mao lha Beh, aye! Masa’ kagak mao memek cewek kece’ gini.. bego aje, homo kali!” ujar Rojali seraya bersiap menempatkan kepala penis di depan bibir vagina Franda. Namun tiba-tiba saja Franda terbangun sedikit, siku lengannya menumpu badan, Rojali kaget. PLAK!!!, “Adaw!!, belon juga make’ udah kena gaplok.. apes gua!,” keluhnya, Sobirin antara mau ketawa dan takut lantaran Franda akan menuntut di-entotnya.
“Sama aja kalian berdua! cari-cari kesempatan!” bentak Franda dengan suara marah yang keras.Rojali memegangi pipinya yang terasa sakit, tiba-tiba dia menarik Franda hingga kakinya menapak rumput lalu membalikkan tubuh Franda. “Beh! Beh! bantuin aye Beh.. tulung!” teriak Rojali ke Sobirin yang terkejut dengan kenekatan anak muda itu.Rojali ingin Sobirin menekan dan menahan punggung Franda ke meja. Franda mencoba berontak, “Eh.. eh! jangan main gila lagi ya! nanti gw laporin polisi kalian!,” ancam Franda disela rontaan.Rojali nampak tak perduli, ia terus melolosi celananya. “Li.. dengar ‘gak tuh, dia mao ngelaporin kite ke Pak RT aeh..Pak Polisi!! kabur nyok?!” Sobirin ketakutan tapi mau tak mau karena masih merasa punya hutang, dia bantu juga Rojali.“Halaah, peduli setan! Babeh mah enak udah ngerasain nih amoy.. aye secelup aje belon, kagak adil! Masa aye di bui kagak dapet ape-ape! Mending aje sekalian,” tanggap Rojali.“Eh! eh! jangan! ja-Anghh! Sssh.. eMhh!” rontaan Franda terpotong desahannya, lantaran penis kampung Rojali sukses besar menyeruak masuk vagina tanpa ampun.“Anjrit memeknyee! Ngkh!”, Rojali mendengus-dengus keenakan, jantungnya berdegup akan keberuntungan.Pertama kali dalam hidup penisnya merasakan jepitan vagina artis..bersetubuh dengan Tv sport anchor, mantan bunga kampus, asisten dosen amoy. Satpam itu pun langsung menggenjot ugal-ugalan lantaran enaknya. Franda disamping tubuhnya dipiting tak dapat bergerak, dia sendiri menikmati. Tidak seorang pun dapat menolak kenikmatan ketika vagina sudah kemasukan penis. Apalagi tubuh Franda ibarat mesin mobil yang sudah hidup, tinggal dibawa jalan-jalan saja ke puncak, dalam hal ini puncak kenikmatan. Saking enaknya, Rojali hanya tahan beberapa menit.“Akh! Akh!,” ia menahan nafas tiap kali mani-nya muncrat keluar di dalam liang kewanitaan Franda. Franda lagi-lagi hanya dapat mendesah pasrah keras-keras tiap kali sperma Rojali muncrat Crot!.Satpam muda itu menarik keluar penisnya dari liang kewanitaan Franda, Sobirin juga berhenti menindih punggung Franda.“Ngehek!. Memeknye enak baanget! anjrit!!. Aahh… sekarang bodo’ habis ini, di bui-di bui dah..yang penting puass.. pernah ngerasain kimpoy artis, haha!” ujar Rojali dengan mata berbinar dan muka puas duduk di rerumputan meski harus dibayar hilang pekerjaan plus mendekam di penjara.“Neng..Neng..maap Neng! Bapak kagak mao masuk penjare.. entar disodomi ame napi-napi kerasan disane, bisa kagak suka lagi entar ame cewek.. berabe dah si otong makan gaji bute!,” Sobirin berlutut memohon pada Franda yang mulai bangun berdiri mengenakan pakaian perlahan karena masih lemas.
Rojali yang tadi pasrah, lihat seniornya begitu dia langsung ikutan, daripada terima nasib jadi Maho, pikirnya. Franda pasang muka galak BT, meski ia tak bisa menyembunyikan kelelahan dan nikmat sisa orgasme di wajah cantik orientalnya. Tangannya masih menumpu meja tenda, sebagai korban perkosaan, tentu ia lelah fisik maupun mental.“Hmhh.. ya sudahlah..sudah terjadi juga sih, mau gimana lagi. Bantu aku saja Pak ke parkiran mobil!,” pinta Franda dengan nada bicara maupun mimik wajah tidak terlihat naik pitam.Tentu Franda pun lega, banyak pemerkosa yang membunuh korbannya untuk hilangkan jejak agar lepas dari hukum pidana. “aduh.. makasih Neng! untung banget kite Li, tau gitu nambah dah,” tanggap satpam tua itu malah.“Yeee, pegimane si Babeh.. udeh bagus dimaapin juga, malah ngelunjak! dikasih pete’ minta jengkol Babeh mah!” sahut Rojali.“Udah ah! nggak penting! Mau bantu ‘gak?!” omel Franda sambil jalan tertatih-tatih, “siap Neng!” tanggap keduanya sambil hormat layaknya pada atasan dan segera bantu memapah.“Pak, nggak usah bertiga-tiga begini! yang satu tolong lihat jalan di depan saja jangan sampai ada orang lihat dan tahu, bisa jadi gosip nggak sedap nanti!”.“Oh, rebes (beres) Neng. Kopral Jali, biar Komandan yang mapah si Neng, kamu amankan jalan! Kasih kode kalo sepi!. Laksanakan!.” Sobirin sok ngatur sok jadi atasan, padahal niatnya mesum, Rojali tahu.“si Babeh pinter bener pilih peran dari tadi! Aye kebagian gak enak melulu… aye aje sini yang bopong Neng Franda!” usul Rojali, Sobirin lebih bulus darinya. “Hus, nyang senior sape disini.. entu nyang kudu jadi Bos! Ayo sono cepet pigi (pergi)! Huss-huss..!”.“emang aye ayam diusir gitu!” keluh Rojali kesal bukan pada usiran Sobirin sebenarnya, tetapi karena kebagian peran yang tidak enak.Rojali terpaksa nurut meski ekspresi muka masam. Dia mendahului awasi jalan yang akan dilalui. ‘ayoo.. kosong!” tangan Rojali melambai-lambai memanggil, artinya aman, Franda dan Sobirin jalan meski perlahan.“Neng Franda.. jalan masing (masih) jauh.. mending Bapak gendong aje ye biar cepet?”, tanpa dengar persetujuan Franda, Sobirin langsung menggendong Franda layaknya pasangan pengantin baru nikah. “Pak, awhh!,” Franda terkejut, tanggannya spontan menggelayut ke belakang leher Sobirin,
Rojali makin iri dengki. Ia jadi ingat lagu yang sering didengarnya di radio, ‘ingin kubunuh satpam-mu! saat dia peluk tubuh indahmu! Di depan kedua mata-ku.. makan ati ama jengkol oh cantik.. aku cemburu!’.Tentu tangan Sobirin dengan ini leluasa mengelus kemulusan paha Franda yang putih mulus, Franda tahu itu. Ia hanya bisa ngedumel, “bagus ya..? pintar usaha cari celahnya!” sindirnya, “ee-hehe.. namanya juga laki-laki Neng, maklum deh, hehe,” tanggap Sobari merasa Franda tahu akal-akalannya kesempatan dalam kesempitan. Franda juga terpaksa mendiamkan, toh dia terbantu juga, secara tubuhnya lemah lunglai, lemas tak bertenaga.“ta’ gendong.. si eNeng Franda… ta’ ewong.. dimana-mana,” Sobirin bersenandung menikmati moment langka baginya.Kira-kira setengah jalan, Rojali minta gantian, jika tidak dia mengancam akan pergi meninggalkan mereka berdua. “ini anak emang ye!,” Sobirin kesal kesenangannya direnggut. (Sejenis aja nih orang barbar berdua, dasar!), keluh Franda dalam hati. Bedanya Rojali minta gendong kuda, jadi dada montok Franda juga dapat dinikmati kekenyalannya selain bisa pegang paha.“Sik-asyik.. sik-asyik.. ngentot denganmu. Sik-asyik.. sik-asyik.. ewek-in kamu, sampe abis peju-u-u-!” Rojali tidak mau kalah bersenandung ketika menggendong kuda Franda.Sampai di pintu mobil Franda berpesan, “Pak, tolong rahasiakan masalah ini yah! jangan sampai ke telinga publik! Hanya kita bertiga yang tahu!”.“Baik Neng, siap!” tanggap kedua satpam tersebut serentak seraya hormat.“Satu lagi, aku mau minta tolong.. carikan info penjual minuman di warung tenda itu, kepalanya gundul pokoknya Pak!” imbuh Franda lagi.“Oh betul Neng, saya tadi juga waktu ngejar sempat lihat.. memang kepalanya botak!. Mukanya jelek, item.. idup lagi,”.“mirip lu dong!?,” celetuk Sobirin.“Aye emang item Beh, tapi kagak botak.. ganteng lagi!”.“Muke lu jauh! nah, Rohane tukang jamu gendong aje kagak sudi sama lu!”. Franda menepuk kening ‘capek deeh!’ dengar obrolan ngalor ngidul mereka yang sama sekali tidak penting.“ya sudah Pak, itu saja ya.. informasi-nya aku tunggu, oya.. hubungi aku kesini saja!,” Franda lalu memberikan sebuah nomer HP yang dicatatnya di secarik kertas, dia malas mendengarkan pembicaraan mereka yang tidak bermutu itu. Pintar dia, tentu nomer yang diberikannya adalah nomer yang hanya untuk sekali pakai bisa langsung dibuang, jadi kedua satpam itu hanya bisa menghubungi seperlunya saja. Tentu nomor ponsel pribadi tidak diumbar ke sembarang orang.
“Lihat Li, nomer HP si Neng.. wuiih, mantep gua dapet nomer cantik si cantik.. Hihuuy!.” Sobirin memamerkan lalu mencium-ciumi kertas bertuliskan nomer HP Franda itu.“Yee Babeh, ntu bukan buat Babeh seorangan.. buat aye juga! mane lihat Beh? bagus nomernye.. kite pasang buat togel aje ape..?, kali aje dapet!” tambah Rojali, membuat Franda makin geleng kepala, kok bisa-bisanya dia sampai jatuh ke pelukan mereka, disetubuhi mereka yang notabene orang udik yang bisanya judi togel dan main sama ‘Mbok-‘mbok. Hari yang aneh, pikir Franda.“Pak, ini untuk sekedar uang rokok!” Franda menyodori uang beberapa ratus ribu.“Waduh.. kagak usah Neng! kite aje masing (masih) kagak enak masalah kimpoy tadi! Bener ‘gak Li?,” tanggap Sobirin.“bener Neng, udah kayak pemaen Be-eP abis kimpoy dibayar.. dapet meki, dapet duit!” tambah Rojali.“Justru itu! ini..agar supaya Bapak berdua lebih bertanggung jawab pegang rahasia, ada beban.. jaga Aib! Jangan sampai keceplosan!” imbuh Franda dengan tatapan tajam.Sobirin dan Rojali saling bertukar pandang, Sobirin membisik sesuatu ke juniornya itu. Mereka berbaris merapat layaknya upacara satpam, bersamaan mereka ber-ikrar,“SIAP!! KAMI SUMPAH POCONG TIDAK AKAN MEMBEBERKAN RAHASIA KEPADA SIAPAPUN!!!” sumpah mereka dengan suara lantang.“Sungguh? Janji?,” Franda belum percaya 100 %.“DEMI TUKUL aeh DEMI TUHAAAN!!”, jawab mereka menirukan salah satu murid Eyang Kabur seperti yang dilansir Youtube. “asal.. Neng Franda bersedia kita kimpoy lagi, hehehehe” tambah mereka kompak dengan suara pelan sambil garuk kepala persis orang o’on.“Heeh?” tanggap Franda dengan mimik wajah ‘WTH?!’. Sobirin kemudian mengambil duit itu dari tangan Franda, “kita lihat nanti Pak,” kata Franda lagi langsung menyalakan mesin mobil dan tancap gas pergi.“Yihaaa! yes..yes, nak ning.. ning nang ning nuung.. nak ning!,” Sobirin girang joget jaipongan layaknya orang baru menang togel setelah pasang nomer ratusan kali.“kenape Beh.. udeh sinting ape kesurupan?” tanya Rojali dengan muka serius. Sobirin langsung berhenti joget.“Blo’on lu ye, persis tampang lu! Entu artinye Neng Franda kagak bisa nolak kalo kite kimpoy die lagi, bodo lu ah!” jelas Sobirin.“Babeh sotoy..tau dari mane?”.“Dasar pe’a! lu denger ‘gak jawab si Neng ‘lihat aja ntar’, nah.. kalo die mao nolak pan die bakal bilang ‘kagak bisa kek..ape kagak mao kek!’, gituu, dongo banget sih lu jadi orang!”.“yaa Babeh.. jelasin aje nape, ‘gak usah bego-begoin aye gitu..entar bego beneran lagi,”.“emang lu udeh bego dari pabrik! nyok ah kite balik ke pos lagi sekarang.. untung Silalahi kagak ikut ngider, bisa-bisa lender nonok Neng Franda dipake tigaan kontol segede gaban!”.“anyo deh Beh, kite selidik besok sebelon tugas ye,” imbuh Rojali meng-usul.Mereka berdua pun kembali ke pos.
###############Esok harinya, selagi Franda istirahat tidak ke kampus maupun off syuting, Sobirin dan Rojali coba cari informasi. Mereka sok jadi detektif. Sembunyi dibalik semak-semak mengawasi orang yang dicurigai sekitar lokasi kejadian kemarin.S : “Li.. ono bukan orangnye?”.R : “bukan! entu mah Pak Soleh Beh.. tukang sapu!,”.S : “alah, sok tau lu.. bisa aje die nyaru pake wig (rambut palsu),”.R : “emm dibilangin.. terserah deh, aye kagak ikutan!”.S : “oke, tapi awas lu kalo gua bener.. lu kagak boleh ngikut gua ngewek-in Neng Franda,”.R : “sok aja Beh.. mata Babeh tuh yang burem.. giliran cewek ame duit aje, baru jelas!”.S : “ye iyelah.. normal dong? lu juga sih.. katenye sore-an, eh, malem juga pas ronda! Udeh tau mata gua sliwer suka keder kalo malem!”.R : “sori Beh aye ketiduran.. masing ngantuk bekas kemaren begadang, lagian kan sekalian biar kalo malem kite bisa ngendep-ngendep gini. Kalo siang kan keliatan orang, malah kite disangka maling trus digebukin orang sekampus lagi!”.S : “Tapi eni gua yakin Li, kagak salah deh.. gua piting no orang pokoknye!”.R : “ye udeeh.. gi dah, bekep sonoo.. dibilangin badung Babeh mah!,”.“bilang aje lu takut, pengecut!” Sobirin ngedumel, Rojali cuma ketawa tanpa sudi membantu. Satpam gembul itu bergerak mengendap-endap hendak menyergap sasaran sendiri.Dengan gerak cepat ia jalan ke belakang si tersangka dan menjambak rambutnya, “dapet lu, modar!”.Sol : “Adeh-deh-deh, sakit! sakit!. Rin.. apa-apaan ente malem-malem gini cande, ah?!”, Sobirin langsung melepas jambakan saat lihat muka orang tersebut.Sob : “waduh, Leh.. salah orang gua!” Sobirin menunduk-nunduk minta maaf. Rojali ketawa terpingkal-pingkal karenanya.Sol : “bijimane sih..?! bahlul ente!”.Sob : “mangap aeh maap Bos, gelap kagak keliatan!”.Sol : “ah..gilo le aeh gile lo, hampir botak pala ane..Sob : “di Reboisasi aje Bos kalo gundul mah,”Sol : “emangnye hutan ditebangin?! ade-ade aje. Lagi ngapain dimari antum pade, hah?”.Terpaksa karena tak dapat alasan lain, Sobirin pun menceritakan seluruh kejadian kepada Solehudin, hanya saja dia tidak bilang wanita korban adalah Franda pada awalnya. Setelah mendapat pencerahan balik, dia beserta Rojali balik ke pos. Mereka cukup terkejut dengan kenyataan yang ada, bahkan karena penasaran mereka menerusi penyelidikan hingga ke luar kampus karena kasus ini rupa-rupanya juga terjadi di kampus tetangga yang sama-sama kampus populer sekitar Jakarta Barat sesuai info yang didapat dari Solehudin.

http://ceritadewasaid.blogspot.co.id/2014/09/cerita-dewasa-franda.html